Apa itu E-Commerce?

Pengertian E-commerce

E-commerce merupakan singkatan dari electronic commerce yang berarti segala aktivitas transasksi jual beli yang dilakukan melalui media elektronik. Media elektronik ini terdiri dari telepon, televisi, dan yang paling populer saat ini, internet.

Contoh E-commerce

Contoh e-commerce yang sudah familiar dalam kehidupan kita sehari-hari adalah

  • Tokopedia
  • Shopee
  • BukaLapak
  • Lazada
  • Zalora
  • Tiket.com
  • Traveloka
  • BliBli
  • OLX
  • Amazon
  • Lazada
  • Facebook
  • Instagram
  • TikTok
  • Dan masih banyak lagi

Berikut ini 10 Ecommerce Terbesar di Indonesia yang pernah kami bahas secara mendalam.

Perbedaan E-commerce dan E-bussiness

E-Commerce adalah bagian dari E-Business
E-Commerce adalah bagian dari E-Business

E-commerce merupakan transaksi jual beli melalui media elektronik, sedangkan E-bussiness berorientasi pada kepentingan jangka panjang dalam bisnis seperti kepercayaan konsumen, relasi antar mitra bisnis dan proses berbisnis. E-commerce sendiri merupakan bagian dari E-bussiness.

Untuk anda yang ingin mencoba mengimplementasikan E-Business pada bisnis andasekarang. Anda bisa mencoba menggunakan Daftar Software ERP Terbaik yang bisa anda gunakan secara gratis. Namun jika anda hanya ingin mencoba meng-online-kan toko anda, anda bisa mencoba CMS Gratis Terbaik untuk Membuat Toko Online

Perbedaan E-commerce dan Marketplace

Marketplace adalah bagian dari E-Commerce
Marketplace adalah bagian dari E-Commerce

E-commerce dan Marketplace memiliki tujuan yang sama, yaitu menjual produk kepada pembeli, namun terdapat perbedaan yang jelas dari keduanya. E-commerce merupakan seluruh transaksi jual beli yang sifatnya elektronik, sedangkan marketplace merupakan situs perantara yang mempertemukan penjual dan pembeli. Marketplace merupakan salah satu contoh model dari e-commerce.

Apakah Tokopedia Termasuk E-Commerce?

Tokopedia
Tokopedia

Berdasarkan perbedaan e-commerce dan marketplace yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka Tokopedia merupakan marketplace dari model e-commerce Consumer to Consumer atau C2C. Pada jenis e-commerce ini, Tokopedia berperan sebagai marketplace yang mempertemukan penjual dan pembeli dalam satu situs miliknya.

Jenis-Jenis Bisnis

  • Bussiness to Bussiness (B2B): B2B mempertemukan satu perusahaan dengan perusahaan yang lain. Contoh: Ralali
  • Bussiness to Consumer (B2C): Perusahaan B2C menjual produk atau jasa dari perusahaan mereka sendiri. Contoh: Lazada, Bhinneka.
  • Consumer to Consumer (C2C): Perusahaan C2C menjadi perantara bagi penjual dan pembeli. Contoh: Tokopedia, Bukalapak, Shopee.
  • Consumer to Bussiness (C2B): Pada C2B, seseorang menjual jasanya kepada perusahaan. Contoh: Freelancer, Upwork.
  • Bussiness to Administration (B2A): Transaksi pada B2A terjadi antara perusahaan dengan administrasi public. Contoh: situs BPJS ketenagakerjaan.
  • Consumer to Administration (C2A): Hampir sama dengan B2A, hanya saja pada C2A transaksi dilakukan oleh konsumen dengan perusahaan administrasi public. Contoh: situs pajak.
  • Online to Offline (O2O): Tujuan dari O2O adalah untuk menarik pembeli daring ke toko fisik. Contoh: mataharimall.com, grab, gojek.

Perkembangan E-Commerce di Indonesia Tahun 2022

Nilai ekonomi dari sektor e-commerce di tahun 2022 ini meningkat 22% dibandingkan dengan tahun lalu dan melesat 136% dari sebelum masa pandemi. Sepanjang semester 1 tahun 2022, total volume transaksi mencapai 1,74 juta transaksi. Google memproyeksikan nilai e-commerce di Indonesia masih akan terus meningkat hingga tahun 2025.

Manfaat E-Commerce

Pesatnya perkembangan e-commerce di Indonesia tidak lepas dari besarnya manfaat dari e-commerce itu sendiri. Berikut ini manfaat dari e-commerce:

  • Mampu menjangkau lebih luas
  • Biaya operasional yang lebih murah
  • Kemudahan mengelola transaksi
  • Kemudahan mengelola data dari informasi pelanggan
  • Meningkatkan percepatan perkembangan bisnis jangka panjang

Dampak Negatif dan Buruk E-Commerce

Pasar Tradisional
Toko offline mulai sepi pengunjung

Meskipun memiliki banyak manfaat, namun e-commerce juga tidak terlepas dari dampak negatif. Perkembangan yang pesat ini melahirkan era disrupsi, yaitu masa di mana terjadi perubahan masif yang mengubah sistem dan tatanan bisnis yang lebih baru. Disrupsi inilah yang menyebabkan preferensi konsumen dalam membeli berubah menjadi transaksi online.

Jual beli secara konvensional secara perlahan ditinggalkan karena banyaknya usaha yang harus dilakukan konsumen. Pada masa pandemi, transaksi jual beli secara konvensional nyaris lumpuh, namun sebaliknya, berdasarkan data dari supplychain247.com, transaksi online berkembang pesat dengan total penjualan global mencapai 4,9 miliar dollar Amerika di tahun 2021.

Tidak hanya sektor e-commerce, sektor jasa transportasi juga mengalami disrupsi digital. Dengan berkembangnya jasa transportasi online seperti Grab, Gojek, atau Uber, jasa transportasi konvensional terancam kehilangan konsumen dan bahkan hilang total. Kondisi ini mendesak banyak pelaku usaha dan jasa untuk ikut mengubah mengikuti arus transaksi online demi menjaga eksistensi dan profit.

Dampak Positif dan Keuntungan E-Commerce

Proyeksi Nilai Ekonomi Digital Indonesia (2019-2025)
Proyeksi Nilai Ekonomi Digital Indonesia(2019-2025)

Disrupsi digital memang memberikan dampak buruk bagi sebagian orang, namun di sisi lain, e-commerce juga memiliki dampak positif yang membuat perkembangannya kian pesat. Era digital membuka kesempatan bagi banyak orang untuk mengembangkan bisnisnya dengan biaya yang terjangkau dan menjangkau kalangan yang lebih luas. E-commerce juga berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Berdasarkan data dari katadata, nilai Gross Merchandise Value (GMV) atau nilai penjualan kotor barang terbanyak di Indonesia berasal dari sektor e-commerce, yakni sebesar US$ 59 miliar di tahun 2022.

Cyber Security dalam E-commerce

Dilema untuk setiap teknologi baru akan selalu ada model kejahatan baru. Hal itu juga tidak terlepas dalam E-commerce. Pencurian data menjadi sangat mudah dan sulit dilacak daripada pencurian-pencurian yang dilakukan secara online.

Berikut ini beberapa hal teknis yang harus diperhatikan dalam E-Commerce.

  1. Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS)
  2. International Organization for Standardization (ISO)
  3. Perlindungan Data Pribadi Pelanggan
  4. TLS, SSL, dan HTTPS
  5. Multi-factor authentication (MFA), 2-factor authentication (2FA), or 2-step verification (2SV)

Berikut ini beberapa serangan yang sering terjadi yang dapat men-target-kan pelanggan ataupun pemilik bisnis. Dua-duanya bisa dirugikan.

  1. Distributed Denial of Service (DDoS)
  2. Malware dan Ransomware
  3. Phishing
  4. SQL Injection
  5. Cross-site scripting (XSS)
  6. E-Skimming

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh pelanggan supaya tetap aman? Berikut ini tips singkat dari kami:

  1. Password yang kuat
  2. Gunakan Gesture Lock pada smartphone anda
  3. Gunakan 2 Factor Auth(2FA)

Estimasi Biaya Pembuatan Website E-commerce

Pembuatan website e-commerce tidak bisa dipastikan biayanya, namun terdapat estimasi yang bisa menjadi acuan anda. Perlu diingat bahwa kualitas marketplace yang anda bangun tergantung dari banyak sekali faktor, biaya hanya salah satu dari banyak faktor tersebut. Ada baiknya acuan ini anda sesuaikan sesuai dengan kebutuhan anda.

NoKeteranganBiaya MinimalBiaya Maksimal
1Analisa dan desain sistemRp12.000.000,-Rp30.000.000,-
2DesainerRp12.900.000,-Rp18.000.000,-
3ProgrammerRp12.900.000,-Rp36.000.000,-
4TesterRp12.900.000,-Rp15.000.000,-
5Project ManagerRp18.000.000,-Rp45.000.000,-
6ServerRp1.200.000,-Rp3.600.000,-
7DomainRp300.000,-Rp300.000,-
8Third PartiesRp1.000.000,-Rp1.000.000,-
TotalRp71.200.000,-Rp148.900.000,-

Sebagai gambaran awal, biaya pembuatan marketplace berkisar antara Rp70.000.000,- hingga Rp140.000.000,-. Seiring dengan berjalannya waktu, anda bisa menambahkan fitur-fitur pendukung lainnya.

Kami telah mengulasnya pada Estimasi Biaya Membuat Website Marketplace. Anda dapat membacanya untuk memahami lebih mendalam angka-angka tersebut.

10 E-commerce Terbesar di Indonesia Tahun 2022

Berikut ini kami tuliskan 10 E-commerce terbesar yang ada di Indonesia. Data ini terakhir kami dapatkan pada Desember 2022. Tidak menutup kemungkinan, akan berubah ditahun-tahun mendatang.

  1. Tokopedia
  2. Shopee
  3. Lazada
  4. Bukalapak
  5. Orami
  6. Blibli
  7. Ralali
  8. Zalora
  9. JD.ID
  10. Bhinneka

Kami telah membahasnya secara mendalam pada artikel 10 Ecommerce Terbesar di Indonesia Tahun 2022

Platform E-commerce Terbaik

Jika anda ingin membuat e-commerce sendiri. Ada dua solusi yang dapat anda coba yaitu:

  1. SaaS, dan
  2. Self Hosting

Model SaaS

SaaS adalah kependekan dari Software-as-a-service. SaaS adalah sebuah distribusi software dengan model pembayaran bulanan ataupun tahunan dimana pusat data sudah disiapkan oleh penyedia SaaS sendiri.

Model Self Hosted

Model Self Hosted adalah memasang platform E-Commerce di server sendiri, sehingga semua data dipegang oleh pemilik. Model satu ini cukup rumit jika tidak memiliki pengetahuan tentang IT.

Platform E-commerce Berbasis SaaS

Sejauh ini belum ada SaaS Indonesia yang sangat dikenal. Ada beberapa saja, namun kami belum pernah mencobanya. Berikut ini daftar SaaS terbaik secara global.

  1. Shopify
  2. BigCommerce
  3. Volution
  4. Adobe Commerce
  5. SalesForce

Platform E-commerce Berbasis Self Hosted

Berbeda dengan SaaS, berikut ini platform yang dapat diinstall sendiri di server masing-masing. Sehingga semua data berada di server pemilik. Namun perlu pengetahuan tekniks yang mumpuni untuk melakukannya. Berikut ini platform e-commerce terbaik menurut kami:

  1. WordPress + WooCommerce
  2. Magento
  3. Drupal
  4. Prestashop
  5. Openchart

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *